Suatu hari Kakak Celyn bercerita, dengan muka
yang hepi dan berbinar-binar.
“Mi, nilai speaking
test ku, tertinggi di kelas. Dari passing
grade 18, aku mendapat nilai 27”, kata Kakak dengan muka yang hepi dan
berbinar-binar.
“Wah, keren dong.. Hebat.. “, jawabku sambil
aku tambahkan bla bla bla nasehat dan motivasi untuk menambah semangat
belajarnya di kemudian hari.
Lanjutku lagi: “Emang yang lain slidenya bagus-bagus ga?”
“Temenku yang lain bagus-baguslah slidenya. Sama aja kayak punyaku”,
ujarnya. Tp, pas presentasi, suara mereka kecil, pelan”.
“Brarti Kakak suaranya kenceng, dong?”, aku pun
bertanya penasaran.
“Iya, suaraku kenceng. Soalnya aku nervous, jadi rasanya aku pengen
berteriak supaya ilang nervousnya”,
jawabnya.
Hahahahaha, langsung deh yang mendengar cerita
Kakak tertawa terbahak-bahak. Aku, suami, asisten RT, semua tertawa keras….
Tapi dibalik tertawa keras itu, aku berfikir,
bahwa dengan keadaan yang terdesak, semua orang menjadi mampu melakukan yang
terbaik. Ternyata the power of kepepet
itu benar adanya. Kepepet menjadi multivitamin yang ajaib. Seseorang dapat
melakukan sesuatu menjadi lebih baik, lebih kreatif, lebih konsentrasi, lebih
berani, dan lebih lebih postif lainnya dalam waktu yang singkat. Seakan-akan
otak mememerintahkan tubuh untuk melakukan yang sempurna. Dan, ternyata itu
BISA.
Inilah kata kuncinya: BISA.
Harusnya,
tanpa kepepet pun, kita bisa melakukan dan menghasilkan sesuatu yang maksimal.
Tapi mungkin kadangkala tidak tercapai karena malas, takut, kurang percaya
diri. Pola pikir perlu diubah.
Bagaimana
menghilangkan menghilangkan hal-hal negative tersebut?
(Pesan buat Kakak, Adik, dan Sinyo jika suatu
saat membaca tulisan Mami ini, bahwa selalu percaya diri dan yakinlah kalian
bisa. Tuhan sudah menganugerahkan kemampuan dan keahlian yang berbeda-beda pada
mahluknya. Selalu berusahalah terus untuk mencoba menjadi lebih baik lagi.
Jangan mudah putus asa.)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar