Follow Us @soratemplates

Kamis, 16 Oktober 2014

Omprengan

Perkenalan dengan mereka terjadi pada awal tahun 2014. Saat itu, Mba Is, asisten saya bercerita bahwa tetangga kami tiap pagi menunggu mobil jemputan di depan komplek. Info itu penting banget, berguna sekali bagi saya. Karenaaa, tiap pagi saya harus melakukan perjalanan yang jauh sekali dari rumah menuju kantor dengan menggunakan angkutan publik. Angkot lebih tepatnya.

Bercerita tentang angkot, ada 3 jalur yang harus saya naiki tiap pagi. Kecapi Pondok Gede, kemudian Pondok Gede Kampung Melayu, dan lanjut lagi dengan jalur Kampung Melayu Senen. Bisa dibayangkan berapa jam yang harus saya habiskan demi menuju kantor. Situasi itu telah saya jalani selama kurang lebih 3 tahun, semenjak kepindahan saya dari rumah mertua di Salemba menuju rumah impian di Jatiwarna, Bekasi Selatan.

Kembali lagi ke cerita mba Is mengenai mobil jemputan tersebut. Ibarat menemukan oase di padang gurun, hahaha, kalau ini agak lebay dikit, saya mencoba menghubungi tetangga tersebut. Pucuk dicinta ulam tiba, ternyata selama seminggu tetangga saya, yang merupakan trainer suatu perusahaan farmasi multinasional, akan dinas keluar kota selama seminggu. Dia memberikan ‘kursinya’ untuk saya ambil alih selama seminggu itu. Itulah awal perkenalanku dengan omprengan, nebengers, tumpangan, atau apa lah istilah lainnya.

Omprengan itu milik seorang Bapak, PNS, yang kantornya tidak jauh dari kantor saya. Sedangkan para penumpang adalah ibu-ibu bekerja di kawasan Sudirman, yang tinggalnya berada di sekitar komplek tempat tinggalku. Sembilan penumpang cantik senantiasa menunggu kedatangan mobil ini.
Rute yang saya tempuh memang menjadi lebih jauh, memutar, karena harus melewati kuningan, sudirman, harmoni, yang merupakan kantor para teman omprengan.  Namun dari segi waktu, jauh lebih cepat, karna omprengan tidak mengenal istilah ngetem, alias berhenti untuk cari penumpang. Dan kebetulan, si Bapak ini selalu mengantar saya sampai depan pintu pagar kantor. Asyik bukan? Pulangnya pun, kami selalu diantar sampai depan pintu rumah…

Banyak hal terjadi di dalam omprengan, banyak kisah seru tercipta. Apalagi mayoritas penghuninya adalah ibu-ibu. Kami bisa share tentang apaaa saja. Mulai dari masakan, tentang anak, pelajaran, kerjaan, diskon special, bisnis, atau ngerumpi tentang bos, suami, tetangga, dan hal-hal heboh lainnya. Kalau sudah begini, si Bapak sopir dan pemilik mobil hanya bisa tersenyum. Paling dalam hati hanya berucap: ah, dasar ini emak2 gaul nan lucu… hahaha….

Kami menjadi dekat satu sama lain. Bahkan kami juga mengadakan arisan, siapa yang dapat akan mentraktir teman lainnya. Seru kan? Kejadian seru lainnya adalah ketika mobil mogok di dalam tol. Hahaha, ga kebayang kan, gimana emak2 harus turun dan mendorong mobil….


Kedekatan kami yang bermula karena kesamaan kepentingan, menjadikan kami saudara satu dengan yang lain. Persaudaraan yang indah. Semoga langgeng selamanya. 

1 komentar:

  1. Persahabatan bagai kepompong,,mengubah ulat menjadi kupu kupu... :)

    BalasHapus