Perkenalan dengan mereka terjadi pada awal
tahun 2014. Saat itu, Mba Is, asisten saya bercerita bahwa tetangga kami tiap
pagi menunggu mobil jemputan di depan komplek. Info itu penting banget, berguna
sekali bagi saya. Karenaaa, tiap pagi saya harus melakukan perjalanan yang jauh
sekali dari rumah menuju kantor dengan menggunakan angkutan publik. Angkot
lebih tepatnya.
Bercerita tentang angkot, ada 3 jalur yang
harus saya naiki tiap pagi. Kecapi Pondok Gede, kemudian Pondok Gede Kampung
Melayu, dan lanjut lagi dengan jalur Kampung Melayu Senen. Bisa dibayangkan
berapa jam yang harus saya habiskan demi menuju kantor. Situasi itu telah saya
jalani selama kurang lebih 3 tahun, semenjak kepindahan saya dari rumah mertua
di Salemba menuju rumah impian di Jatiwarna, Bekasi Selatan.
Kembali lagi ke cerita mba Is mengenai mobil
jemputan tersebut. Ibarat menemukan oase di padang gurun, hahaha, kalau ini
agak lebay dikit, saya mencoba menghubungi tetangga tersebut. Pucuk dicinta
ulam tiba, ternyata selama seminggu tetangga saya, yang merupakan trainer suatu
perusahaan farmasi multinasional, akan dinas keluar kota selama seminggu. Dia
memberikan ‘kursinya’ untuk saya ambil alih selama seminggu itu. Itulah awal
perkenalanku dengan omprengan, nebengers, tumpangan, atau apa lah istilah
lainnya.
Omprengan itu milik seorang Bapak, PNS, yang
kantornya tidak jauh dari kantor saya. Sedangkan para penumpang adalah ibu-ibu
bekerja di kawasan Sudirman, yang tinggalnya berada di sekitar komplek tempat
tinggalku. Sembilan penumpang cantik senantiasa menunggu kedatangan mobil ini.
Rute yang saya tempuh memang menjadi lebih
jauh, memutar, karena harus melewati kuningan, sudirman, harmoni, yang merupakan
kantor para teman omprengan. Namun dari
segi waktu, jauh lebih cepat, karna omprengan tidak mengenal istilah ngetem,
alias berhenti untuk cari penumpang. Dan kebetulan, si Bapak ini selalu
mengantar saya sampai depan pintu pagar kantor. Asyik bukan? Pulangnya pun,
kami selalu diantar sampai depan pintu rumah…
Banyak hal terjadi di dalam omprengan, banyak
kisah seru tercipta. Apalagi mayoritas penghuninya adalah ibu-ibu. Kami bisa
share tentang apaaa saja. Mulai dari masakan, tentang anak, pelajaran, kerjaan,
diskon special, bisnis, atau ngerumpi tentang bos, suami, tetangga, dan hal-hal
heboh lainnya. Kalau sudah begini, si Bapak sopir dan pemilik mobil hanya bisa
tersenyum. Paling dalam hati hanya berucap: ah, dasar ini emak2 gaul nan lucu…
hahaha….
Kami menjadi dekat satu sama lain. Bahkan kami
juga mengadakan arisan, siapa yang dapat akan mentraktir teman lainnya. Seru
kan? Kejadian seru lainnya adalah ketika mobil mogok di dalam tol. Hahaha, ga
kebayang kan, gimana emak2 harus turun dan mendorong mobil….
Kedekatan kami yang bermula karena kesamaan
kepentingan, menjadikan kami saudara satu dengan yang lain. Persaudaraan yang
indah. Semoga langgeng selamanya.

Persahabatan bagai kepompong,,mengubah ulat menjadi kupu kupu... :)
BalasHapus