Follow Us @soratemplates

Selasa, 18 November 2014

Ini Tentangmu



Kamu memang istimewa.
Sangat istimewa.
Dengan semua polahmu, tingkahmu, tawamu, candamu, tangismu,
Juga teriakan dan suara lantangmu
Bagi kami, kau  adalah indah..
Seindah pelangi dengan warnanya yang beraneka ragam
Sama menariknya dengan kupu-kupu yang bebas kesana kemari..
Hilary Josephine Sistanaya, sebuah anugerah tak ternilai dari Tuhan, 
buat kami.

27 November 2010.
Rasanya tidak sabar untuk melihatmu ke dunia, nak.
Sabtu pagi, sesuai dengan kesepakatan, dokter Herbert Situmorang membantu mengeluarkan Adik dari perutku, dengan cara sectio cesar.  Suatu hal ajaib boleh aku alami untuk kedua kali. Saat mendengar suara tangismu yang sangat kencang, dan dokter mengatakan bahwa yang lahir adalah anak perempuan, spontan akupun bertanya: “Dok, rambutnya lurus apa keriting?”
Dokter Herbert pun tertawa keras dan menjawab: “Emang kenapa, koq pertanyaan pertama adalah rambut? Rambutnya keriting.”

Akupun terdiam. Entah kenapa, aku tidak terlalu menyukai rambut keriting. Padahal kalau menurut pelajaran bahasa Indonesia yang kudapat waktu SD dulu, bahwa rambut yang sangat indah adalah seperti mayang terurai. Dan artinya, mayang terurai itu adalah rambut yang bergelombang, bukan lurus seperti lidi. Tapi kembali lagi, aku kurang suka dengan rambut yang kata peribahasa adalah bagus itu…. J
Probabilitas untuk anakku dilahirkan keriting pun besar. Secara bapaknya keriting/ikal. Neneknya alias ibuku juga mempunyai rambut yang bergelombang. Jadi, kenapa aku harus bersikeras anakku berambut lurus? Agak aneh juga aku ini…. J

Anyway, kembali lagi ke Adik yang baru lahir. Setelah keluar dari perut, Adik menjalani proses Inisiasi Menyusui Dini (IMD). IMD adalah proses membiarkan bayi dengan nalurinya sendiri dalam satu jam pertama setelah lahir, bersamaan dengan kontak kulit (skin to skin) antara kulit ibu dan kulit bayinya. Adik berhasil melakukan IMD. Bahkan menurut dokter Yohmi yang mendampingi proses IMD, Adik adalah bayi tercepat di RS Carolus dalam IMD. Ternyata dari semenjak dilahirkan, kamu memang gesit dan cekatan, Dik…

Hilary Josephine Sistanaya, nama itulah yang kami berikan untuk Adik. Hilary, sebuah nama seorang pujangga gereja, yang semasa hidupnya adalah seorang pembela iman yang benar. Josephine mempunyai makna hadiah dari Tuhan. Jadi doa dan harapan kami, semoga hadiah dari Tuhan tersebut bisa tumbuh menjadi anak yang selalu menyenangkan Tuhan, menyenangkan sesama, menyenangkan orang tua, dan semua yang ada di sekeliling Adik. Dengan cara bagaimana menyenangkan ke semua itu? Dengan cara berbuatlah seperti yang Tuhan ajarkan dan hindarilah yang Tuhan larang.  Dan kami, sebagai orang yang diberi hadiah oleh Tuhan, wajib menjaga hadiah itu dengan sepenuh hati.

Hari-harimu.
Gesit, cekatan, tidak pernah diam, mempunyai energi yang tidak pernah habis, itulah karaktermu.  
Adik alias Ephine alias Kiting, si istimewa. Istimewa dari rambutnya yang kriwil-kriwil, berbeda dengan Kakak dan Adiknya yang berambut lurus. Istimewa dari polahnya yang sangat atraktif, paling aktif dibandingkan dua saudaranya yang lain.

Masih terbayang, bagaimana awal-awal Adik mempunyai adik baru. Kecemburuan yang luar biasa terhadap adik barunya. Adik baru sengaja kami panggil Sinyo. Aku bersikukuh ingin tetap memanggil Ephine dengan sebutan Adik, jadi untuk menghindari ada 2 Adik, jadilah nama Sinyo yang muncul. J
Selalu cari perhatian,  teriak sana teriak sini, menangis dengan suara yang menggelegar, sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Adik. Bahkan Mba Yus, asisten yang merawat Adik, terang-terangan minta keluar dengan alasan sudah tidak sanggup menghadapi tingkah laku Adik. Atau Mba Samanah, yang aku berhentikan karena kasihan melihat asisten di bully terus menerus oleh gadis kecil yang berambut keriting itu. Saat itu, usiamu masih 2 tahun 3 bulan, Dik…

(Tetapi seiring berjalannya waktu, saat aku membolak balik hati, melihat semua yang terjadi dan menyimpulkan ini semua bukan kesalahan Adik. Aku yang terlalu fokus pada adik barunya. Aku yang melihat tingkah laku Adik sebagai hal yang menyebalkan, membuat tensi naik,  malah membuat Adik memperkuat benteng pertahanannya. Jiwa pemberontaknya semakin muncul. Untunglah itu tidak berlarut-larut. Aku yang segera menyadari ada yang salah, mulai merubah caraku. Tapi memang perlu waktu berbulan-bulan untuk membuat Adik mau aku peluk kembali. Yang sebelumnya seakan-akan melihat hantu jika memandangku, akhirnya kembali dapat melihat malaikat… (hahaha, ciee Mami jadi malaikat nih…). Yang tadinya maunya diurusin oleh Papi, akhirnya sedikit demi sedikit mau dimandiin Mami, disuapin Mami, tidur sama Mami.)

Namun Adik tetaplah anak kecil, seorang anak kecil yang apa adanya. Seorang yang ekspresif, yang selalu mengingatkan sang papi untuk selalu berhati-hati jika sedang menyetir. “Ati-ati ya, Papi. Jangan ngebut”. Kadangkala dia juga berkata: “Papi, jangan nakal dong. Kalau ngerem kan aku bisa jatuh”. (hmmm, emang Adik hobinya berdiri di mobil, dan kadang-kadang saat Papinya mengerem, dia akan terjungkal… hihihi….). Dia yang dalam sehari minta peluk paling banyak dari kami orang tuanya, dibandingkan ketika kami memeluk Kakak dan Sinyo.

Adik jugalah yang selalu menjadi penyeimbang antara Kakak dan Sinyo. Dia bisa bermain dengan Kakaknya, bisa juga bermain dengan adiknya. Namun rasanya, Adik lebih sering bersama-sama dengan Sinyo, karena selisih umurnya yang tidak berbeda jauh.  Adik juga yang selalu melindungi Sinyo, menyayanginya dengan caranya sendiri..

Time goes so fast….
Sekarang, Ephineku adalah gadis cantik yang tomboy. Gadis kecil berkulit putih dengan rambutnya yang unik, matanya yang besar, bulu mata yang lentik. Seorang siswa yang masih bersekolah di TK, dimana bu Novi, guru Adik, selalu menceritakan ini kepadaku:

“Bu, Ephine masih belum mau mewarnai. Tiap kali disuruh memegang pensil, dia akan (pura-pura) menangis.”

Atau

“Bu, ketika saya berkata kepada murid-murid untuk mengacungkan jari jika ada anak yang bisa menyanyi, maka si Ephine adalah anak pertama yang mengacungkan jari dan berkata bahwa ia akan menyanyi. Namun setelah sampai di depan, Ephine akan menutup mulutnya, hanya diam. Jika diminta menyanyi, dia akan (pura-pura) menangis.” (Aku pernah bertanya tentang hal ini kepada Adik, yaitu: “Dik, kenapa sih kalau di sekolah nangis?” Jawab Adik: “Gapapa, biar digendong bu Novi”----------- hahahaha, ternyata Adik adalah seorang anak yang cerdik. Dia punya strategi supaya bisa mendapatkan hal yang diinginkannya)

Atau

“Bu, Ephine tidak mau menari, tapi kalau saatnya makan, dia paling cepat dan pasti habis.”
Dan, inilah jawabanku kepada gurunya:

“Tidak apa-apa bu, yang penting ada progress kearah yang lebih baik.”

Bagiku, setiap anak adalah unik. Masing-masing mempunyai kelebihan yang wajib kita banggakan dan diapresiasi. Pasti ada perbedaan dalam pencapaian milestone seorang anak, baik itu motorik, emosional, verbal, dll. Ada anak yang lebih cepat mencapai kemampuan motorik, ada juga yang kemampuan kognitifnya lebih dulu berkembang. Selama anak masih dalam rentang batas normal dalam tahapan pertumbuhannya, bagiku its oke… J

Akhirnya…
Aku ingat ada sebuah kalimat: “Ayah, Ibu, jangan keluhkan aku tidak bisa diam, lihatlah energiku ini, bukankah kalau aku jadi pemimpin, aku butuh energi sebesar ini?”

Atau, ketika seorang sahabatku berkomentar ketika melihat foto Ephine yang atraktif, katanya: “Titenio… anakmu ketoke ndregil ngene iki suk insha Allah lak dadi pengusaha sukses Mpuss” (yang  kalau ditranslate, kira2 artinya begini: “Ingat ya Mpus/Heny, bahwa anakmu yang kelihatannya tidak bisa diam ini, besok besar akan jadi pengusaha sukses…).

Akhirnya apapun itu, Dik… Kamu adalah istimewa

(Meski Mami tak pandai berkata-kata, namun aku ingin engkau tahu, betapa Mami mencintaimu, Nak… Demikian juga Papi, Kakak, dan Sinyo, semua sangat mencintaimu, sama seperti cintamu kepada kami.)






Tidak ada komentar:

Posting Komentar