Kamu memang istimewa.
Sangat istimewa.
Dengan semua polahmu, tingkahmu,
tawamu, candamu, tangismu,
Juga teriakan dan suara lantangmu
Bagi kami, kau adalah indah..
Seindah pelangi dengan warnanya yang
beraneka ragam
Sama menariknya dengan kupu-kupu
yang bebas kesana kemari..
Hilary Josephine Sistanaya, sebuah
anugerah tak ternilai dari Tuhan,
buat kami.
27 November 2010.
Rasanya
tidak sabar untuk melihatmu ke dunia, nak.
Sabtu pagi, sesuai dengan kesepakatan, dokter
Herbert Situmorang membantu mengeluarkan Adik dari perutku, dengan cara sectio cesar. Suatu hal ajaib boleh aku alami untuk
kedua kali. Saat mendengar suara tangismu yang sangat kencang, dan dokter
mengatakan bahwa yang lahir adalah anak perempuan, spontan akupun bertanya: “Dok,
rambutnya lurus apa keriting?”
Dokter Herbert pun tertawa keras dan menjawab:
“Emang kenapa, koq pertanyaan pertama adalah rambut? Rambutnya keriting.”
Akupun terdiam. Entah kenapa, aku tidak terlalu
menyukai rambut keriting. Padahal kalau menurut pelajaran bahasa Indonesia yang
kudapat waktu SD dulu, bahwa rambut yang sangat indah adalah seperti mayang
terurai. Dan artinya, mayang terurai itu adalah rambut yang bergelombang, bukan
lurus seperti lidi. Tapi kembali lagi, aku kurang suka dengan rambut yang kata
peribahasa adalah bagus itu…. J
Probabilitas untuk anakku dilahirkan keriting
pun besar. Secara bapaknya keriting/ikal. Neneknya alias ibuku juga mempunyai
rambut yang bergelombang. Jadi, kenapa aku harus bersikeras anakku berambut
lurus? Agak aneh juga aku ini…. J
Anyway, kembali lagi ke Adik yang baru
lahir. Setelah keluar dari perut, Adik menjalani proses Inisiasi Menyusui Dini
(IMD). IMD adalah proses membiarkan bayi dengan nalurinya sendiri dalam satu
jam pertama setelah lahir, bersamaan dengan kontak kulit (skin to skin) antara kulit ibu dan kulit bayinya. Adik berhasil
melakukan IMD. Bahkan menurut dokter Yohmi yang mendampingi proses IMD, Adik
adalah bayi tercepat di RS Carolus dalam IMD. Ternyata dari semenjak
dilahirkan, kamu memang gesit dan cekatan, Dik…
Hilary Josephine Sistanaya, nama itulah yang
kami berikan untuk Adik. Hilary, sebuah nama seorang pujangga gereja, yang
semasa hidupnya adalah seorang pembela iman yang benar. Josephine mempunyai
makna hadiah dari Tuhan. Jadi doa dan harapan kami, semoga hadiah dari Tuhan
tersebut bisa tumbuh menjadi anak yang selalu menyenangkan Tuhan, menyenangkan
sesama, menyenangkan orang tua, dan semua yang ada di sekeliling Adik. Dengan
cara bagaimana menyenangkan ke semua itu? Dengan cara berbuatlah seperti yang
Tuhan ajarkan dan hindarilah yang Tuhan larang.
Dan kami, sebagai orang yang diberi hadiah oleh Tuhan, wajib menjaga
hadiah itu dengan sepenuh hati.
Hari-harimu.
Gesit, cekatan, tidak pernah diam, mempunyai
energi yang tidak pernah habis, itulah karaktermu.
Adik alias Ephine alias Kiting, si istimewa.
Istimewa dari rambutnya yang kriwil-kriwil, berbeda dengan Kakak dan Adiknya
yang berambut lurus. Istimewa dari polahnya yang sangat atraktif, paling aktif
dibandingkan dua saudaranya yang lain.
Masih terbayang, bagaimana awal-awal Adik
mempunyai adik baru. Kecemburuan yang luar biasa terhadap adik barunya. Adik
baru sengaja kami panggil Sinyo. Aku bersikukuh ingin tetap memanggil Ephine
dengan sebutan Adik, jadi untuk menghindari ada 2 Adik, jadilah nama Sinyo yang
muncul. J
Selalu cari perhatian, teriak sana teriak sini, menangis dengan suara
yang menggelegar, sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Adik. Bahkan Mba Yus,
asisten yang merawat Adik, terang-terangan minta keluar dengan alasan sudah
tidak sanggup menghadapi tingkah laku Adik. Atau Mba Samanah, yang aku
berhentikan karena kasihan melihat asisten di bully terus menerus oleh gadis kecil yang berambut keriting itu.
Saat itu, usiamu masih 2 tahun 3 bulan, Dik…
(Tetapi seiring berjalannya waktu, saat aku
membolak balik hati, melihat semua yang terjadi dan menyimpulkan ini semua
bukan kesalahan Adik. Aku yang terlalu fokus pada adik barunya. Aku yang melihat
tingkah laku Adik sebagai hal yang menyebalkan, membuat tensi naik, malah membuat Adik memperkuat benteng
pertahanannya. Jiwa pemberontaknya semakin muncul. Untunglah itu tidak
berlarut-larut. Aku yang segera menyadari ada yang salah, mulai merubah caraku.
Tapi memang perlu waktu berbulan-bulan untuk membuat Adik mau aku peluk
kembali. Yang sebelumnya seakan-akan melihat hantu jika memandangku, akhirnya
kembali dapat melihat malaikat… (hahaha, ciee Mami jadi malaikat nih…). Yang
tadinya maunya diurusin oleh Papi, akhirnya sedikit demi sedikit mau dimandiin
Mami, disuapin Mami, tidur sama Mami.)
Namun Adik tetaplah anak kecil, seorang anak
kecil yang apa adanya. Seorang yang ekspresif, yang selalu mengingatkan sang
papi untuk selalu berhati-hati jika sedang menyetir. “Ati-ati ya, Papi. Jangan
ngebut”. Kadangkala dia juga berkata: “Papi, jangan nakal dong. Kalau ngerem
kan aku bisa jatuh”. (hmmm, emang Adik hobinya berdiri di mobil, dan
kadang-kadang saat Papinya mengerem, dia akan terjungkal… hihihi….). Dia yang
dalam sehari minta peluk paling banyak dari kami orang tuanya, dibandingkan
ketika kami memeluk Kakak dan Sinyo.
Adik jugalah yang selalu menjadi penyeimbang
antara Kakak dan Sinyo. Dia bisa bermain dengan Kakaknya, bisa juga bermain
dengan adiknya. Namun rasanya, Adik lebih sering bersama-sama dengan Sinyo,
karena selisih umurnya yang tidak berbeda jauh. Adik juga yang selalu melindungi Sinyo,
menyayanginya dengan caranya sendiri..
Time goes so fast….
Sekarang, Ephineku adalah gadis cantik yang
tomboy. Gadis kecil berkulit putih dengan rambutnya yang unik, matanya yang besar,
bulu mata yang lentik. Seorang siswa yang masih bersekolah di TK, dimana bu
Novi, guru Adik, selalu menceritakan ini kepadaku:
“Bu, Ephine masih belum mau mewarnai. Tiap kali
disuruh memegang pensil, dia akan (pura-pura) menangis.”
Atau
“Bu, ketika saya berkata kepada murid-murid
untuk mengacungkan jari jika ada anak yang bisa menyanyi, maka si Ephine adalah
anak pertama yang mengacungkan jari dan berkata bahwa ia akan menyanyi. Namun
setelah sampai di depan, Ephine akan menutup mulutnya, hanya diam. Jika diminta
menyanyi, dia akan (pura-pura) menangis.” (Aku pernah bertanya tentang hal ini
kepada Adik, yaitu: “Dik, kenapa sih kalau di sekolah nangis?” Jawab Adik:
“Gapapa, biar digendong bu Novi”----------- hahahaha, ternyata Adik adalah
seorang anak yang cerdik. Dia punya strategi supaya bisa mendapatkan hal yang
diinginkannya)
Atau
“Bu, Ephine
tidak mau menari, tapi kalau saatnya makan, dia paling cepat dan pasti habis.”
Dan, inilah
jawabanku kepada gurunya:
“Tidak
apa-apa bu, yang penting ada progress kearah
yang lebih baik.”
Bagiku, setiap anak adalah unik. Masing-masing
mempunyai kelebihan yang wajib kita banggakan dan diapresiasi. Pasti ada perbedaan dalam pencapaian milestone seorang anak, baik itu motorik,
emosional, verbal, dll. Ada anak yang lebih
cepat mencapai kemampuan motorik, ada juga yang kemampuan kognitifnya lebih
dulu berkembang. Selama anak masih dalam rentang batas normal dalam tahapan
pertumbuhannya, bagiku its oke… J
Akhirnya…
Aku ingat ada sebuah kalimat: “Ayah,
Ibu, jangan keluhkan aku tidak bisa diam, lihatlah energiku ini, bukankah kalau
aku jadi pemimpin, aku butuh energi sebesar ini?”
Atau, ketika seorang sahabatku berkomentar
ketika melihat foto Ephine yang atraktif, katanya: “Titenio… anakmu ketoke
ndregil ngene iki suk insha Allah lak dadi pengusaha sukses Mpuss” (yang kalau ditranslate, kira2 artinya begini:
“Ingat ya Mpus/Heny, bahwa anakmu yang kelihatannya tidak bisa diam ini, besok
besar akan jadi pengusaha sukses…).
Akhirnya apapun itu, Dik… Kamu
adalah istimewa
(Meski Mami tak pandai berkata-kata,
namun aku ingin engkau tahu, betapa Mami mencintaimu, Nak… Demikian juga Papi,
Kakak, dan Sinyo, semua sangat mencintaimu, sama seperti cintamu kepada kami.)






Tidak ada komentar:
Posting Komentar