Follow Us @soratemplates

Rabu, 22 Oktober 2014

Tentang Kakak dan Reading Comprehension

19.18 0 Comments
Kemarin sore, tepatnya Selasa sore, saya menerima pesan dari mba Is, isinya: "Bu, tadi di jemputan Kakak muntah-muntah dan pusing, sekarang sampai rumah langsung tidur....". Sambil membaca, saya berfikir, ga biasanya Kakak begitu, perasaan tadi pagi saat berangkat ke sekolah, Kakak segar bugar, sehat wal'afiat. Apalagi hari Selasa, Kakak biasanya semangat sekali ke sekolah pada hari Selasa, karena selesai pelajaran ada Co Curricular Activity (CCA) hiphop dance....


Ga terlalu kurisaukan, karena aku adalah penganut aliran bahwa sesuatu terjadi karena pengaruh pikiran kita. Atau jika dibalik, bahwa apa yang kita pikirkan itulah yang terjadi. So, aku selalu berfikiran positif, dengan harapan yang terjadi adalah hal-hal postif. Jadi, aku berfikir, ah, paling Kakak masuk angin, kecapekan, pengaruh cuaca yang tidak bersahabat, de el el.


Sesampai di rumah, saya langsung menuju ke tempat Kakak, yang saat itu sedang belajar. Di depannya ada buku Mandarin dan Reading Comprehension (RC). Saya pegang dahi Kakak, biasa aja, ga panas. Saya tanya apakah dia masih pusing, dia jawab tidak.
Saya pun menginterview Kakak.
"Kak, tadi di jemputan muntah-muntah?"
"Iya", jawab Kakak. Lanjut Kakak: " Sebenernya pusing dan mual udah dari tadi siang, di kelas. Tapi aku tahan, aku diam aja".
"Loh, kenapa?" tanyaku lagi.
"Ga papa, koq Mi", sahutnya
"Oh, ya udah kalo ga papa", jawabku.

Percakapan pun berhenti. Kakak mulai lagi menghadap bukunya. Saya pun akan membersihkan badan dan makan malam. Tetapi saat akan beranjak pergi, kudengar suara Kakak lagi.
"Mi, tadi sebenernya aku ga pusing. Dan test RC tadi gampang koq", kata Kakak perlahan.
Aku berfikir sejenak, dan mencerna kalimat yang aneh itu, karena aku pikir tidak nyambung. Seketika juga, otakku langsung bekerja. Jangan-jangan Kakak stress karena test itu, dan mendadak sakit.

Pikiranku pun serasa kembali ke beberapa hari terakhir. Memang, pelajaran RC adalah pelajaran yang paling susah menurut Kakak, juga menurut teman-temannya di kelas 3. (Dalam hati saya juga bilang iya sih, susah emang... hihihi...). Gurunya adalah Ms Joy, seorang Philippines, yang cara pengajaran RC di sekolah menggunakan full in English. Mungkin bagi Kakak itu agak susah, yah, namanya juga proses. Beberapa hari terakhir, memang saya bilang fokus belajar Kakak ke RC. (Pake acara ngomel2 pula waktu itu. Abis gemess liat dia ga bisa-bisa). Mungkin secara tidak langsung itu yang mempengaruhi pikirannya. Siapa tau ya?

Akhirnya saya  memeluk Kakak, dan berkata: "Kakak bisa ga ngerjain RC? Kalau tidak bisa, gpp koq Kak. Masih ada test RC lain hari, masih bisa berusaha, masih bisa mengejar kekurangan nilai. Kesehatan Kakak lebih penting daripada test ini. Kalau Kakak bisa ngerjain test tapi terus sakit, stres, pusing, itu yang Mami ga mau. Yang penting Kakak udah belajar, udah berusaha", kata saya sok bijak... (hihihi... Tp asli, kalau anak stres karena pelajaran, haduh, bagi saya gak banget deh...). Kakak terdiam, tidak berkomentar apa-apa. Namun saya lihat tangannya mengusap-usap matanya. Dan tidak berapa lama, dia lari masuk kamar. Pasti deh Kakak mewek, terharu denger ucapan saya... hahaha.... Iya sih, memang Kakak adalah tipe anak yang sensitif. Justru dengan kata-kata halus dia akan tersentuh. Bagi dia, omelan tidak berarti apa-apa, ibarat masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Namun dengan sentuhan dan kata-kata lembut, nasehat ke Kakak akan masuk ke otak dan hatinya (Iya kan Kak, bener begitu? Mami kan udah apal watakmu.... :) ). 

Hidup ini tidak hanya belajar akademis. Masih banyak hal lain yang perlu dipelajari. Memang secara alamiah proses belajar dimulai ketika kita lahir, dan terus akan ada, sampai kita menutup mata. Belajar secara akademis adalah bagian kecil dari pelajaran hidup lainnya. Nilai-nilai moral lebih penting daripada sekedar matematika. Belajar yang sesungguhnya adalah jika kita bisa memberi manfaat bagi sesama. 

(Keep smile ya Kakak Jocelyn sayang, selalu belajar dalam hidup ini. Yang penting Kakak selalu berusaha. Pasti ada campur tangan Tuhan untuk orang yang selalu berusaha. Kedepan, Mami percaya, Kakak akan lebih pintar lagi dalam memahami RC.... :)) )

Selasa, 21 Oktober 2014

Suatu Hari ke Cinangneng

07.34 0 Comments
Ini adalah tulisan si Kakak, Jocelyn. Ditulis setelah dia melakukan field trip ke Cinangneng, Bogor. Menurut saya, tulisan yang lumayan bagus bagi seorang pemula. Mengalir. Bercerita tentang kegiatan dia. Sudah runtut. Tapi memang masih banyak yang blm diceritakan. How about you? :) Mari kita belajar menulis bersama, Kak.... Semangatt....




Suatu Hari ke Cinangneng
Pada hari Kamis tanggal 9 Oktober 2014, kelas 3B dan 3D mengadakan field study ke Cinangneng, Bogor. Sebelum berangkat kami berkumpul untuk berdoa memohon keselamatan dan diabsen oleh Ms Nana. Setelah itu, kami berjalanan menuju ke bis. Di bis saya duduk bersama Jessica dan Natalie.
Sepanjang perjalanan kami bermain teka teki bersama teman-teman. Diselingi makan jajanan yang kami bawa dari rumah. Mr. Josh menunjukkan kampusnya yaitu Institut Pertanian Bogor. Mr Josh juga menyuruh kami untuk memberi hormat ketika melewati kampus IPB.
Setelah sampai di Cinangneng acara pertama adalah menyanyikan lagu Sunda dan bermain angklung. Setelah selesai kami di bagi menjadi beberapa kelompok, saya mendapat kelompok 1 bersama teman yang saya kenal semua, yaitu Tian, Gaby, Bhista, Asheila, Aby, Farel, Daffa, Natalie, dan Adrian.
Lalu kami berjalan ke Jembatan Pulang Kampungku. Kegiataan pertama di Jembatan Pulang Kampungku adalah menanam padi. Saya sangat tidak suka menanam padi karena membuat baju dan celana saya menjadi penuh dengan lumpur. Kegiataan lain adalah memandikan kerbau . Saya sangat suka memandikan kerbau karena asyik dan menyenangkan. Kerbau itu bernama Bintang, berumur adalah 3 tahun. Selesai memandikannya kami berpamitan kepada Bintang. Kemudian kami menyebrangi sungai. Menyeberangi sungai membutuhkan tali tambang. Saya senang  menyeberangi  sungai karena bisa bermain air. Setelah selesai menyebrangi sungai, kami mandi dan berganti baju.
Acara dilanjutkan dengan makan siang  yang disediakan oleh mamang dan teteh. Menunya adalah nasi, sayur sop, ayam goring, kerupuk, sambal, dan buah. Makanan tersebut sangat lezat.
 Selesai makan kami masih diberi waktu untuk beristirahat, bermain ataupun membeli mainan. Di toko terdapat bermacam-macam barang seperti obor, gelang, kalung,suling dan mainan dari bambu. Saya membeli gelang dan kalung berwarna pink. Saya juga membelikan suling untuk adik saya. Ketika saya membeli suling, teman saya memanggil saya untuk melanjutkan aktivitas.
Aktivitas yang lain adalah membuat wayang dari batang singkong. Di awal membuat, saya tidak kesukaran tetapi di akhir saya merasa sulit, sehingga saya dibantu oleh mamang Achmad. Kegiatan sehabis membuat  wayang adalah menari Jaipong. Untuk menari jaipong anak perempuan harus memakai selendang dan anak laki-laki memakai topi dari kain.
Sehabis menari jaipong kami bermain genderang. Not bermain genderang adalah 515515 212212. Kami melakukan itu sampai berulang – ulang.Tadinya saya keliru memainkan not 515515 215215 tetapi kemudian saya tersadar setelah saya bertanya kepada Asheila. Dia berkata bahwa not yang benar adalah 515515 212212.
 Kegiatan yang terakhir adalah membuat kue bugis dan wedang jahe. Saat membuat kue bugis dan wedang jahe  kami harus bergantian mengaduk  supaya adil. Setelah matang hasil makanan itu kami makan. Rasanya enak sekali. Ternyata membuat membuat kue bugis dan wedang jahe sangat simpel. Cara membuat kue bugis: tepung terigu dicampur dengan air, garam, minyak sayur dan diaduk-aduk sampai halus. Kemudian adonan diisi unti, dan dicetak. Tunggu 10 menit, setelah itu baru bisa dimakan.
Setelah seluruh kegiatan selesai, waktunya untuk kami pulang. Tetapi sebelum pulang kami foto bersama, pembagian sertifikat dan bingkisan. Setelah itu kami menuju bis. Di bis saya duduk bersama Orchid dan di belakang saya ada Farel ,Bhista, dan Wildon.  Dan kami bermain bersama hingga sampai di sekolah. 

Dibawah ini adalah sebagian foto-foto di Cinangneng: 





Kamis, 16 Oktober 2014

Omprengan

01.12 1 Comments
Perkenalan dengan mereka terjadi pada awal tahun 2014. Saat itu, Mba Is, asisten saya bercerita bahwa tetangga kami tiap pagi menunggu mobil jemputan di depan komplek. Info itu penting banget, berguna sekali bagi saya. Karenaaa, tiap pagi saya harus melakukan perjalanan yang jauh sekali dari rumah menuju kantor dengan menggunakan angkutan publik. Angkot lebih tepatnya.

Bercerita tentang angkot, ada 3 jalur yang harus saya naiki tiap pagi. Kecapi Pondok Gede, kemudian Pondok Gede Kampung Melayu, dan lanjut lagi dengan jalur Kampung Melayu Senen. Bisa dibayangkan berapa jam yang harus saya habiskan demi menuju kantor. Situasi itu telah saya jalani selama kurang lebih 3 tahun, semenjak kepindahan saya dari rumah mertua di Salemba menuju rumah impian di Jatiwarna, Bekasi Selatan.

Kembali lagi ke cerita mba Is mengenai mobil jemputan tersebut. Ibarat menemukan oase di padang gurun, hahaha, kalau ini agak lebay dikit, saya mencoba menghubungi tetangga tersebut. Pucuk dicinta ulam tiba, ternyata selama seminggu tetangga saya, yang merupakan trainer suatu perusahaan farmasi multinasional, akan dinas keluar kota selama seminggu. Dia memberikan ‘kursinya’ untuk saya ambil alih selama seminggu itu. Itulah awal perkenalanku dengan omprengan, nebengers, tumpangan, atau apa lah istilah lainnya.

Omprengan itu milik seorang Bapak, PNS, yang kantornya tidak jauh dari kantor saya. Sedangkan para penumpang adalah ibu-ibu bekerja di kawasan Sudirman, yang tinggalnya berada di sekitar komplek tempat tinggalku. Sembilan penumpang cantik senantiasa menunggu kedatangan mobil ini.
Rute yang saya tempuh memang menjadi lebih jauh, memutar, karena harus melewati kuningan, sudirman, harmoni, yang merupakan kantor para teman omprengan.  Namun dari segi waktu, jauh lebih cepat, karna omprengan tidak mengenal istilah ngetem, alias berhenti untuk cari penumpang. Dan kebetulan, si Bapak ini selalu mengantar saya sampai depan pintu pagar kantor. Asyik bukan? Pulangnya pun, kami selalu diantar sampai depan pintu rumah…

Banyak hal terjadi di dalam omprengan, banyak kisah seru tercipta. Apalagi mayoritas penghuninya adalah ibu-ibu. Kami bisa share tentang apaaa saja. Mulai dari masakan, tentang anak, pelajaran, kerjaan, diskon special, bisnis, atau ngerumpi tentang bos, suami, tetangga, dan hal-hal heboh lainnya. Kalau sudah begini, si Bapak sopir dan pemilik mobil hanya bisa tersenyum. Paling dalam hati hanya berucap: ah, dasar ini emak2 gaul nan lucu… hahaha….

Kami menjadi dekat satu sama lain. Bahkan kami juga mengadakan arisan, siapa yang dapat akan mentraktir teman lainnya. Seru kan? Kejadian seru lainnya adalah ketika mobil mogok di dalam tol. Hahaha, ga kebayang kan, gimana emak2 harus turun dan mendorong mobil….


Kedekatan kami yang bermula karena kesamaan kepentingan, menjadikan kami saudara satu dengan yang lain. Persaudaraan yang indah. Semoga langgeng selamanya. 

Rabu, 15 Oktober 2014

Mereka Hadir untuk Dicinta

23.12 1 Comments


Mereka hadir sebagai titipan Tuhan yang harus dijaga sebaik-baiknya. 
Mereka ada untuk dicinta.Terbayanglah kekesalan yang hampir tercipta akibat perbuatan dan tingkah nakal mau pun pembangkangan mereka tadi. Terlintaslah amarah yang nyaris meluap saat mereka tak mendengar perintah mau pun ketika peraturan terlanggar. Beruntung kekesalan itu hanya sempat mampir di kepala dan tak sampai keluar makian kasar yang pasti akan melukai telinga mereka.Bersyukur amarah ini tak sekali pun sempat membuat mereka melihat saya seperti monster yang menakutkan.

Mereka hanya anak-anak yang sangat pantas dan bisa sangat dimaafkan ketika berbuat kesalahan. Jiwa mereka masih sangat rapuh untuk menerima kalimat dan perilaku kasar orang tua hanya karena kesalahan kecil yang mereka pun mungkin tak sadar kalau itu benar-benar sebuah kesalahan.Bisa jadi letak kesalahan justru terletak pada orang tua yang terlalu kaku membuat peraturan, mengekang kebebasan mereka sebagai individu yang meski masih kecil tetap saja seorang manusia yang berhak dan bebas memilih untuk melakukan yang terbaik menurut mereka. Tugas orang tua bukan melarang atau memerintah, tapi lebih kepada mengarahkan agar mereka tetap berada pada jalur yang sebenarnya. Menatap kembali wajah-wajah bersih itu dalam tidur mereka yang mungkin sedang memimpikan Ayah dan Ibu yang tengah menimang dan membuai penuh kasih, tergambar jelas tak sedikit pun ada dosa di diri mereka.

Kalau mau menghitung-hitung, jangan-jangan justru kita lah yang lebih banyak berbuat kesalahan terhadap mereka dibanding jumlah kesalahan kecil mereka.Saya teringat banyak kejadian di luar. Misalnya ketika di sebuah angkot seorang ibu memaki anaknya yang masih berusia empat tahun -dari posturnya seukuran anak saya- dengan kalimat yang sangat belum waktunya anak sekecil itu mendapatkannya. Belum lagi tempelengan yang sempat mampir di kepalanya. "goblok lu ya, kalau jatuh mampus luh," hanya karena ia sempat melongok kearah pintu angkot.
Sebuah kesalahan kecil yang mestinya bisa disikapi lebih bijak dengan sebuah nasihat lembut. Atau ketika melihat seorang ibu dari teman sekolah anak kami di TK. Anaknya terjatuh saat berlari, "Nyungsep sekalian biar bonyok tuh muka. Udah dibilangin jangan lari," itu pun masih ditambah satu tamparan di kepala. Yang pasti itu tak meredakan tangis si anak, bahkan membuat memar di lututnya semakin perih terasa hingga ke hati.Mengusap bulir keringat di kening mereka dan membelai rambutnya saat tidur membuahkan pertanyaan di benak ini, haruskah bintang-bintang sejernih ini mendapatkan perlakuan sekasar itu? Lihat saja senyum mereka saat terlelap, dan dengarkan hati mereka bernyanyi dalam mimpi. Anda akan mendengarkan nyanyian riangnya jika Anda memperlakukannya sepanjang hari seperti halnya Anda tengah menciptakan sebuah mimpi indah untuknya. 

Namun jangan terperanjat ketika tengah malam tidur Anda terusik saat ia mengigau dan berteriak ketakutan. Hanya rintihan yang bisa terdengar dari mimpinya karena sepanjang hari ia hanya mendapatkan kecemasandan ketakutan dari kalimat kasar, delikkan mata dan ayunan keras tangan Anda ke tubuh mereka.Tak seekor nyamuk pun pernah saya persilahkan untuk menyentuh setiap inci kulit mereka. Lalu kenapa masih ada yang tega mencederai anak-anak, padahal dalam berbagai dongeng mereka selalu mendengar bahwa yang kasih dan cintanya tak terbanding itulah Ayah dan Ibu.

Coba sentuh dengan lembut wajah halusnya saat tidur, itu akan membuatnya bermimpi indah seolah tengah terbaring di pangkuan bidadari. Anak-anak tak pernah membenci orang tuanya, bahkan saat mereka mendapatkan perlakukan kasar dari orang tua pun, tetap saja nama Ayah atau Ibu yang mereka panggil saat menangis. Anak-anak tak pernah berdosa terhadap orang tuanya, justru kebanyakan orang tua yang berdosa kepada mereka dengan makian kasar dan pukulan menyakitkan. Anak-anak tak pernah benar-benar membuat orang tua kesal, orang tua lah yang teramat sering membuat mereka kecewa mendapati Ayah dan Ibunya tak seindah syair lagu yang selalu diajarkan guru di sekolah.Ah, kadang orang tua baru menyadari bahwa anak-anak hadir untuk dicinta saat ia terbaring lemah di salah satu tempat tidur di bangsal anak-anak. Atau ketika Tuhan mencabut titipannya untuk kembali kepangkuannya itu dari kita. Menangiskah kita?

Cintailah anak-anak kita dengan penuh kasih dan lembut.

(Love u,  my sunshine… Jocelyn, Josephine, dan Joaquin)















(Tulisan ini entah saya dapat darimana, yang pasti saya suka sekali dengan tulisan ini. Sungguh menginspirasi, notabene bagi saya yang masih belum bisa mengontrol emosi. Masih suka marah2 booo....) 

Senin, 13 Oktober 2014

Ketika Kenangan Diperlukan

19.48 3 Comments
Rasanya aku memerlukan suatu media untuk menampung cerita-cerita dalam hidupku. Tentang angan-angan, tentang mimpi, asa, dan apa saja. Yang suatu saat akan menjadi cerita indah untuk dikenang.  Sesuatu yang bisa menjadi cerita buat kekasih hatiku: Hildagardis Jocelyn Sistanaya, Hilary Josephine Sistana, dan Hieronimo Joaquin Sistanaya. 

Yup, untuk itulah aku membuat blog ini. Yang pasti blog ini akan bercerita tentang apa saja. Biasalah, cerita khas seorang ibu bekerja, yang di kantor menjadi pegawai, di rumah menjadi tukang marah-marah, menjadi guru, tukang masak (meskipun masakannya ga enak... hehe), tukang bersih2, kadang juga jadi tukang cat, tukang taman, menjadi istri dan ibu yang cerewet dan bawel (kata suami begitu.. :) )

Semoga apa yang terulis disini, bisa bermanfaat bagi yang membacanya..

Salam,
Heny Puspitasari
Ibu bekerja, ibu 3 orang anak (yang cantik, ganteng, pinter, taat, sopan, dan semua yang baik2 ---- harapan dan doa papi mami.. :))